Latest News
10 January 2017

Terjadi di Kalimantan Timur, Angka Perceraian 2016 Meningkat Disebabkan Karena Medsos

SatuPos.Com | Angka perceraian di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU) selama 2016 cukup tinggi.

Berdasarkan data Pengadilan Agama Tanah Grogot yang membawahi dua wilayah ini, perkara yang diterima selama 12 bulan mencapai 1.321. Meskipun akhirnya yang diputuskan hanya 1.291 perkara.

Dari data yang dihimpun setidaknya terdapat 759 janda dan duda baru selama 2016. Jumlah tersebut berasal dari gugatan cerai yang telah diputuskan.

Sedangkan untuk kasus cerai talak (suami mengajukan) yang diputuskan ada 196 perkara. Dan cerai gugat (istri mengajukan ) 563 perkara. Sedangkan untuk perkara cerai talak yang akhirnya ditolak pengadilan agama ada 229, dan cerai gugat ada 636 perkara.

Panitera Pengadilan Agama Tanah Grogot Nasa’i mengatakan, perceraian kebanyakan dari kalangan swasta. Untuk di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) masih di bawah angka 1 persen. Sedangkan penyebabnya, dia mengungkapkan ada berbagai macam faktor. Mulai dari ekonomi, hingga usia muda suatu pasangan.

“Setiap akan sidang terbuka, kami selalu membuka mediasi kepada pasangan yang mau berpisah agar memikirkan kembali matang-matang,” kata Nasa’i.

Namun, mau tidak mau terkadang di beberapa perkara pengadilan harus memberikan pilihan terbaik, yakni berpisah ketimbang dipertahankan. Hal itu untuk kebaikan kedua pasangan, kecuali pasangan yang menggugat cerai tersebut tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa mereka harus bercerai.

Terpisah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Paser, Faulina Widryani menuturkan hal senada terkait penyebab perceraian yang terjadi sama dengan yang diungkapkan pihak pengadilan agama.

Khusus di Paser yang masuk wilayahnya, ada penyebab lain disebutkannya. Faulina mengungkapkan tidak lain ialah karena perkembangan media teknologi dan informasi. Sering kali muncul celah retaknya suatu hubungan berawal dari media sosial. Misalnya di semua ponsel kini memiliki fitur obrolan yang memudahkan akses ke siapa saja. Sehingga memunculkan orang ketiga.

“Berawal iseng-iseng chatting (ngobrol) dan akhirnya keterusan,” kata Faulina.

Namun pihaknya tidak tinggal diam, ada sejumlah program dan terobosan yang dilakukan demi menekan angka perceraian. Misalnya dengan memberikan pembekalan ke penyuluh agama yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.

“Sementara hanya kepada penyuluh agama Islam, nanti mereka yang bertugas menyampaikan tentang berapa batas ideal usia perkawinan. Tidak bisa dimungkiri mayoritas yang bercerai ialah dari agama Islam,” terangnya.

Selain itu, dia mengatakan berdasarkan program dari dinasnya, angka ideal menikah seorang perempuan ialah usia 21 tahun, dan pria 25 tahun, sehingga dengan standar itu diharapkan kestablian ekonomi maupun emosional pasangan sudah matang.

Dia pun mengakui di beberapa budaya, masih ada yang menekan harus menikah di bawah 20 tahun. “Bahkan ada yang mengatakan malu biasanya kalau punya anak di umur tua. Padahal yang penting jangan sampai cepat menikah, tetapi cepat juga cerainya,” terang Faulina. (jib/JP)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Terjadi di Kalimantan Timur, Angka Perceraian 2016 Meningkat Disebabkan Karena Medsos Rating: 5 Reviewed By: satupos news