Latest News
08 June 2017

KH Jujun Junaedi: Makna Jihad Dalam Islam

Belakangan ada sebagian masyarakat yang agak alergi dengan kata "jihad". Jika mendengar kata jihad, maka alis mereka akan sedikit mengercit, bahkan bukan tidak mungkin bulu roma mereka meremang lagu bergidik.

Mengapa demikian? Bukankah jihad itu diperintahkan oleh Allah Swt? Stigma ini terjadi karena ada sebagian kecil orang yang mengaku dirinya sebagai muslim yang memaknai jihad dari sudut pandang yang sempit. Akibatnya, jihad ditafsirkan secara salah. Mereka menganggap jihad dengan mengafirkan orang lain dan membunuh orang-orang yang tak bersalah.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan apalagi menggiring umatnya untuk berbuat zalim, membunuh orang-orang yang tak bersalah, mengganggu ketenangan, dan menumpahkan darah tanpa alasan yang jelas.

Jihad dalam pandangan Islam, bukan hanya dimaknai sebagai perang dalam arti qital (membunuh musuh yang memerangi Islam), melainkan memerangi hawa nafsu: hawa nafsu ingin berkuasa, hawa nafsu ingin dihormati, hawa nafsu ingin memiliki jabatan yang tinggi dan harta yang banyak, hawa nafsu untuk memaksakan kehendak, termasuk hawa nafsu untuk merisak, memerkusi, dan menghancurkan (membunuh) orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya.

Rasulullah saw pernah mengingatkan para sahabat agar hati-hati seusai Perang Badar sebuah perang yang paling dahsyat dan paling besar saat itu karena melibatkan puluhan ribu orang. Beliau mengatakan, "Kita baru saja menyelesaikan perang yang kecil karena sesungguhnya perang yang paling besar yaitu perang melawan diri sendiri (jihadun nafs)."

Tampaknya kita harus kembali melihat ta'rif dari kata jihad yang dimaksudkan Allah dalam Aquran. Berdasarkan hasil kajian para ulama, jihad memiliki dua pengertian.

Pertama, secara lughah (bahasa) jihad berasal dari kata jahada yang artinya bersungguh-sungguh. Dalam pengertian yang pertama ini, jihad berarti melaksanakan sebuah  pekerjaan dengan sungguh-sungguh, penuh pengorbanan, penuh keikhlasan, dan hanya mengharap keridaan Allah Swt. Kata jihad selalu dikaitkan dengan kata iman.

Banyak sekali ayat dalam Alquran yang menyuruh manusia untuk berjihad (bersungguh-sungguh) melakukan sesuatu yang bermanfaat di jalan Allah, baik dengan harta maupun dengan jiwa. Di antaranya: "Tu-minuuna billaahi wa rasuulihii wa tujaahiduuna fii sabiilillahi bi amwaalikum wa anfusikum, dzaalikum khairin lakum in kuntum ta'lamuun (Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan bersungguh-sungguhlah (berjihad) di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian kalau saja kalian mengetahuinya). (QS Ashaff/61:11)

"Innamal mu-minuunal ladziina aamanuu billahi wa rasuulihii tsumma lam yartaabuu wajahaduu bi amwalihim wa anfusihim fi sabiilillahi, ulaa-ika humush shaadiquun. (Orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak merasa ragu-ragu (pantang) untuk berjihad (bersungguh-sungguh) dengan harta-harta dan jiwa-jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar). (QS. Alhujurat/49 : 15).

Kedua, kata jihad  biasa dimaknai sebagai sebagai qatala (membunuh saat berperang dengan orang yang memerangi Islam) seperti yang tercantum dalam QS Ashaff/61 ayat 4, "Innallaaha yuhibbul ladziina yuqaatiluuna fii sabiilihii shaffan ka-annahum bunyaanun marshush" (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang (membunuh orang yang menyerang Islam) di jalan Allah dengan membentuk barisan yang rapat seperti bangunan yang berdiri kokoh).

Dalam pengertian yang kedua, jihad yang dimaksud yaitu jihad fisik, adu kekuatan dengan musuh untuk menegakkan kalimat Allah, untuk mempertahankan akidah. Umat Islam wajib turun ke medan tempur ketika ada kelompok tertentu yang mencoba memerangi muslim dengan maksud untuk meruntuhkan akidah dan menghancurkan tauhidullah. Oleh karena itu setiap tetes darah muslim yang keluar dari tubuhnya saat bertempur membela akidahnya kepada Allah, dijamin akan menjadi tiket untuk memasuki surga-Nya.

Pertanyaannya sekarang, jihad mana yang harus lebih banyak kita lakukan dalam konteks kehidupan sekarang? Apakah masih mungkin kita berperang di negeri ini? Adakah orang-orang yang secara kasatmata, secara terang-terangan menyerang muslim untuk meruntuhkan akidah? Jika ada, maka kita wajib berperang sampai titik darah terakhir.

Sebaliknya, jika tidak ada, maka kewajiban kita adalah melaksanakan jihad dalam arti yang pertama yakni bersungguh-sungguh melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain dengan mengharap keridoan Allah. Bukan dengan meledakkan bom dan menghabisi nyawa orang.

Dengan apa kita berjihad? Dengan harta dan jiwa (baca: tenaga dan pikiran). Mengeluarkan sebagaian harta untuk dana pendidikan orang-orang miskin dan kaum duafa agar mereka menjadi muslim yang cerdas dan berwawasan luas adalah jihad dalam arti luas. Menguras pikiran untuk mencari jalan untuk pembangunan ekonomi umat, sehingga umat Islam menjadi makhluk sosial yang produktif dan mampu bersaing di tengah-tengah percaturan dunia adalah jihad. Memeras keringat, berkreasi, membuat sebuah produk yang membuka peluang untuk membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang tidak mampu sehingga mereka bisa memperbaiki kesejahteraan hidupnya adalah jihad.

Ramadan merupakan salah satu "medan perang" bagi setiap muslim untuk berperang melawan hawa nafsunya, melawan keakuannya (egoisme), melawan kesombongannya, melawan keserakahannya, melawan ketidakpeduliannya terhadap orang miskin, yatim, dan lingkungan sosialnya; melawan keinginannya yang tak terkendali, melawan hasratnya untuk merusak dunia (lingkungannya), dll.

Pada Bulan Suci ini muslim dihadapkan pada perang besar melawan hawa nafsu yang dipersonifikasikan dengan makanan, minuman, dan kebutuhan biologis. Siapa yang berhasil melawan hawa nafsunya dengan _imaanan wahtisaban_ (keimanan dan kesungguhan berserah diri pada Allah), dialah pemenangnya.

Oleh Dr. K.H. Jujun Junaedi, M.Ag
 
(Penulis, Pimpinan Ponpes Aljauhari, Karangpawitan, Sukawening, Garut dan Dosen UIN SGD Bandung)

Editor: Endan Suhendra
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: KH Jujun Junaedi: Makna Jihad Dalam Islam Rating: 5 Reviewed By: satupos news