Alasan di balik keengganan Pele tampil di Liga Europa

by -16 views
pele - SatuPos.com


Ketika seorang Hwang Hee-Chan mencetak gol pertamanya di Liga Inggris saat bermain untuk Wolverhampton, bukan hanya dia yang melambungkan namanya. Sosok Evan Dimas Darmono, mantan gelandang atraktif Timnas Indonesia U-19, juga menjadi perbincangan. Bedanya, kalau Hee-Chan banyak diperhatikan, kualitasnya semakin dewasa, sedangkan Evan Dimas disorot karena lamban.

Evan Dimas, yang kini bermain di liga paling terkenal dari Sabang hingga Merauke, adalah seorang pencetak gol tiga kali berturut-turut pada laga Kualifikasi Piala Asia U-19 di GBK, Oktober 2013 lalu. Saat itu, Indonesia mengalahkan Korea Selatan 3-2. Saat itu, timnas Korea Selatan diperkuat oleh Hee-Chan.

Sekarang banyak yang mencibir kenapa malah Hee-Chan yang kualitasnya semakin bagus, bukan mantan punggawa timnas Indonesia saat itu? Spekulasi yang paling mainstream adalah Hee-Chan tampil di Eropa, sedangkan Evan Dimas hanya tampil di Liga Indonesia atau liga tetangga. Performanya bisa diprediksi.

Namun, kami tidak dapat menyetujui bahwa pemain sepak bola yang tidak tampil di Eropa ada di ujung jari mereka. Juga, Anda tidak perlu terlalu yakin bahwa pesepakbola handal pasti akan pergi ke klub-klub Eropa. Pasalnya, seorang Edson Arantes do Nascimento atau yang kita kenal Pele, belum pernah sekalipun muncul di kancah Eropa.

Meski begitu, siapa yang tidak mengenal striker paling produktif Brasil yang pernah lahir? Jelas tidak ada. Bahkan penggemar sepak bola paling nakal pun akan tahu sosok Pele. Dia bisa dibilang raja pencetak gol.

Pele masuk dalam jajaran pemain dengan pencetak gol terbanyak di level timnas. Dia mencetak total 77 gol. Meski jumlah golnya masih di bawah Ali Daei, Cristiano Ronaldo, atau Mohamed Mokhtar Dahari. Pele juga bersinar di level klub, meski tidak di Eropa.

Sepanjang karirnya Pele hanya bermain di tiga klub: Bauru AC di level junior; Santos dan New York Cosmos di tingkat senior. Penampilan paling mempesona Pele adalah saat tampil bersama Santos dan timnas Brasil. Saat membela Santos, Pele tampil 638 kali dan mengemas 619 gol. Jumlah golnya hampir sama dengan total penampilannya.

Pele juga mempersembahkan tiga gelar Piala Dunia untuk Brasil, yakni pada tahun 1958, 1962, dan 1970. Berkat kemampuannya yang menawan, tidak sulit bagi Pele untuk tampil di liga-liga top Eropa. Tanpa mengorbankan harga diri, Pele bisa saja tampil di klub raksasa Eropa. Bahkan klub-klub ini mengejar Pele. Namun Pele hanya membalas tawaran itu dengan senyuman.

Penawaran Klub Besar Eropa

Raksasa Spanyol, Real Madrid yang kerap melahirkan legenda sepakbola berkualitas, tercatat tengah mengejar tanda tangan Pele. Namun, menurut laporan Marca, Pele menolak tawaran dari Real Madrid. Ia mengaku lebih memilih bermain di Santos FC. Bagi Pele, Santos adalah klub hebat dengan caranya sendiri.

Tawaran itu tak hanya datang dari Real Madrid. Raksasa Eropa lainnya telah membujuk Pele. Sebut saja seperti Napoli, Juventus, AC Milan, hingga Manchester United. Pele juga nyaris bermain dengan Backenbauer di Bayern Munich. Tawaran itu datang ketika Pele berusia Satupos 15-30 tahun.

Namun, ketika pemain muda seperti Vinicius Junior hingga Richarlison memilih tampil di Eropa, Pele muda tetap bertahan di Santos FC. Lagi-lagi Pele menegaskan hubungannya dengan Santos baik-baik saja dan enggan hengkang. Mungkin klub-klub besar Eropa mulai bosan dengan diri mereka sendiri karena jika mereka menawarkan Pele kontrak, itu akan ditolak. Lantas apa yang membuat Pele tak pernah tampil di Eropa?

Penunjukan Pele sebagai Harta Nasional Brasil

Sosok Pele mungkin membuat semua orang mengerti bahwa sepak bola adalah sesuatu yang berharga bagi Brasil. Karena jasanya untuk Brasil di dunia sepak bola, Pele bahkan seperti hewan langka yang dilindungi oleh pemerintah Brasil. Brasil merasa harus melindungi Pele.

Apalagi saat konflik politik tahun 1961. Kekacauan politik saat itu entah bagaimana membuat Presiden Brasil saat itu, Janio Quadros, memaksa parlemen untuk mengesahkan undang-undang yang menjadikan Pele sebagai harta nasional dan aset berdaulat.

Undang-undang tersebut secara khusus juga mencegah Pele meninggalkan Brasil di tengah konflik politik, setidaknya selama 10 tahun. Mungkin Pele punya keinginan untuk tampil di Eropa. Namun karena situasi politik, ia tidak memiliki kesempatan untuk pindah ke Eropa.

Nyaman

Terlepas dari faktor politik, kenyamanan mungkin menjadi alasan paling manusiawi mengapa Pele tidak pernah pindah ke Eropa. Di Brazil, dia sangat akrab dengan lingkungannya. Ditambah keluarganya tinggal di Brasil. Dia suka bisa makan masakan orang tuanya kapan saja. Saat diwawancarai oleh Daily Telegraph, Pele mengatakan Brasil dan Santos adalah satu-satunya tim dalam hidupnya.

BACA JUGA :  Lee Jang Won Band PEPERTONES Akan Menikah... Dan Calon Pengantinnya Mengejutkan Semua Orang : Berita K-Pop

Sementara banyak pemain hebat Eropa pindah ke klub di benua lain, seperti Amerika dan Asia untuk menghabiskan masa tua mereka, Pele tidak. Ketika berusia 35 tahun dan terlalu tua untuk bermain di Santos, Pele masih dikejar klub-klub Eropa.

Meski saat itu juga sedang mengalami krisis finansial, Pele tetap menolak tawaran klub Eropa tersebut. Meskipun dimungkinkan untuk bermain di Eropa, ekonomi akan pulih. Alih-alih pergi ke Eropa, Pele justru menerima tawaran New York Cosmos di usia tersebut.

Keputusannya didasarkan pada fakta bahwa Pele ingin memperkenalkan sepak bola kepada publik New York. Dia membela New York Cosmos pada 1975-1977. Di klub inilah Pele akhirnya memutuskan gantung sepatu dengan meninggalkan rekor 1363 pertandingan dan 1.281 gol sepanjang kariernya. Pele dijuluki O Rei atau Raja.

Ini bukan tentang rasisme

Keengganan Pele bermain di Eropa kerap memunculkan tudingan rasisme di Eropa. Namun, Pele menegaskan bahwa di Eropa tidak ada rasisme.

Meski belum pernah membela klub di Eropa, ia pernah tampil atau baru datang ke Benua Biru. Pele mengatakan di Eropa tidak boleh ada rasisme karena tim-tim Eropa juga dihiasi banyak pemain kulit hitam.

Saat tampil di final Piala Dunia 1958 di Swedia, Pele tidak mengalami rasisme. Saat itu hanya timnas Brasil yang diisi pemain kulit hitam. Pele mengatakan rasisme di Eropa hanyalah sebuah kontroversi untuk memenuhi kebutuhan surat kabar.

Media dan teknologilah yang membesar-besarkan isu rasisme di Eropa. “Saya pikir para pemain harus berbicara, agar pers melaporkan. Sekarang hal kecil apa pun dianggap rasisme. Mereka (pers) sangat menekankan hal ini,” kata Pele seperti dikutip The42.

Soal sepak bola, Eropa mungkin kiblatnya. Namun bukan berarti semua pemain hebat ada di sana dan menikmati gaji yang tentunya lebih banyak dari pemain di Liga BRI. Sosok Pele itu nyata, bukan fiktif seperti keadilan di Indonesia.

Sumber referensi: futbolretro.es, sportskeeda.com, primetimesportstalk.com, aljazeera.net, the42.ie.





Terimakasih sudah membaca artikel Alasan di balik keengganan Pele tampil di Liga Europa

Loading...

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *