Edukasi Penggunaan Masker & Vaksinasi Tidak Bisa Berhenti

by -0 views
infografismasker vaksin cara jitu kurangi tingkat penularan dan kematianaristya rahadian 169 - SatuPos.com



infografismasker vaksin cara jitu kurangi tingkat penularan dan kematianaristya rahadian 169 - SatuPos.com

Jakarta, SatuPos Indonesia – Pemerintah bersama Satgas Covid-19 memperpanjang pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Indonesia hingga mencapai level terendah. Mendukung optimalisasi kebijakan ini, pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan edukasi tentang penggunaan masker dan pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Gugus Tugas Covid-19 Alexander Ginting menegaskan PPKM merupakan instrumen penting dalam penanggulangan pandemi dan pengendalian penularan virus yang memiliki banyak fungsi. Fungsi-fungsi tersebut berjalan dengan baik berkat sinergi pemerintah, Polri, Satgas, berbagai organisasi dan lembaga, serta masyarakat.

“Pelaksanaan PPKM merupakan bentuk kerjasama dan kolaborasi yang sangat khas bagi masyarakat Indonesia. Ini bisa menjadi panutan dalam penanganan pandemi. Namun meski kasus sudah menurun, PPKM harus terus kita lakukan untuk pengendalian dan pencegahan. lonjakan kasus terjadi lagi,” kata Alexander dalam Dialog Semangat Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Senin (20/9/2021).

Berkaca dari lonjakan kasus yang terjadi di negara tetangga, disiplin protokol kesehatan tidak boleh dilonggarkan meski pembatasan mobilitas telah dilonggarkan. Selain itu, upaya penelusuran dan pengawasan kasus harus terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi lonjakan kasus.

“Kami dari Satgas juga terus melakukan program ‘maskerisasi’ bagi masyarakat,” ujarnya.

Alexander juga menjelaskan, saat ini sudah tidak ada lagi wilayah level 4 di Jawa dan Bali. Sedangkan untuk di luar Jawa dan Bali hanya beberapa daerah yang menerapkan level 4. Menurutnya, meski PPKM sudah masuk level 1 atau 2, Posko PPKM di desa dan kelurahan harus selalu menjalankan fungsinya mengayomi warga. .

Di sisi lain, Alexander mengatakan vaksinasi sebagai elemen penting dalam penanganan pandemi COVID-19 juga harus terus dipercepat. Vaksinasi, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, harus segera dilakukan.

BACA JUGA :  DAWN Diminta Menyebut Nama Wanita Lain Dalam Lagu Mereka, Dan Reaksi Hyuna Tak Ternilai : Berita K-Pop

“Dosis pertama vaksin untuk lansia masih 26%, dosis kedua 18% padahal mereka adalah populasi rentan. Untuk mortalitas, lebih dari separuhnya adalah lansia, kasus aktif juga kebanyakan lansia,” kata Alexander .

Menurut Alexander, salah satu kendala utama yang sering dialami para lansia saat ingin melakukan vaksinasi adalah akses ke lokasi vaksinasi. Kendala yang sama juga menjadi kendala bagi kelompok penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan motorik dan sensorik.

Oleh karena itu, Alexander meminta semua pusat vaksinasi untuk memberikan kemudahan akses bagi para lansia, difabel, dan kelompok rentan lainnya. Masyarakat sekitar, terutama keluarga dari kelompok rentan juga diharapkan berperan aktif dalam membantu percepatan vaksinasi bagi mereka.

Sementara itu, Anggota Gugus Tugas Subbidang Mitigasi COVID-19 Falla Adinda memastikan ketersediaan vaksin di Indonesia mencukupi. Menurutnya, fokus saat ini lebih difokuskan pada distribusi vaksin dan edukasi masyarakat agar mau segera melakukan vaksinasi.

Loading...

“Indonesia sangat diberkati, terima kasih kepada pemerintah atas upayanya dalam menyediakan vaksin. Kami memiliki vaksin dalam jumlah yang cukup dan berbagai merek. Tugas kami selanjutnya adalah dalam hal pendistribusian dan meyakinkan masyarakat untuk waspada terhadap vaksinasi,” katanya.

Ia juga menilai saat ini kesadaran masyarakat tentang protokol kesehatan cukup tinggi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana menjaga protokol kesehatan tersebut saat situasi sudah membaik. Falla mengingatkan, potensi gelombang ketiga lonjakan kasus COVID-19 harus selalu diwaspadai.

“Penurunan kasus selama PPKM terjadi karena adanya desakan dari pemerintah agar masyarakat dapat membatasi mobilitasnya. Jangan sampai masyarakat menjadi lengah setelah pembatasan dicabut. Oleh karena itu, kampanye penerapan protokol kesehatan harus terus dilakukan, meski masyarakat sudah terlanjur beraktivitas. merasa malu. Hindari keramaian, batasi mobilitas. Semoga gelombang ke-3 tidak terjadi,” ujarnya.

BACA JUGA :  Resmi Kelola Blok Rokan, Tahun Depan Pertamina Bor 500 Sumur

Direktur Kampanye Gerakan Memakai Masker (GPM) Fardilla Astari juga menyampaikan hal senada, bahwa kampanye dan edukasi harus terus dilakukan dan menjangkau seluruh elemen masyarakat. Tujuannya agar masyarakat selalu ingat untuk memakai masker, menerapkan protokol kesehatan, dan mempercepat vaksinasi.

Untuk itu, mereka mencoba merangkul komunitas yang belum terjangkau oleh teknologi digital dan internet. “Caranya, relawan kami melakukan penyuluhan kepada tokoh masyarakat, tokoh masyarakat seperti di pasar, pondok pesantren dan tempat ibadah,” ujarnya.

GPM juga aktif menggunakan media digital sebagai sarana mendidik generasi muda. Pemuda sebagai agen perubahan, dinilai memiliki peran penting dalam proses pendidikan dan sosialisasi terkait COVID-19. Untuk itu, GPM menggelar berbagai program untuk menyasar generasi muda melalui kerjasama dengan berbagai pihak, seperti Gugus Tugas Covid-19, KPCPEN, dan lembaga lainnya.

“Kami selalu mengingatkan semua pihak terutama generasi muda untuk selalu memakai masker dan segera melakukan vaksinasi. Semoga mereka yang terdidik juga menjadi influencer bagi lingkungan sekitar,” ujar Fardilla.

[Gambas:Video CNBC]

(drum / drum)




Terimakasih sudah membaca artikel Edukasi Penggunaan Masker & Vaksinasi Tidak Bisa Berhenti

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *