Pengacara Korban Bullying KPI Akui Ada Desakan Tarik Laporan, Tegaskan Tak Mau Berdamai

by -0 views
1631277398767 gettyimages 1206710836 - SatuPos.com


Pengacara MS Korban Bullying KPI Akui Ada Tekanan untuk mencabut laporan dan menempuh jalan damai

Ilustrasi aksi melawan bullying via Getty Images

Pada 9 September 2021 muncul laporan dari sumber anonim yang diwawancarai Detik.com, bahwa tersangka korban bullying dan pelecehan di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berinisial MS ditekan untuk menarik laporannya ke polisi. Selain itu, korban juga mengaku ditekan untuk menempuh cara damai.

Setelah laporan itu menjadi viral, ketua tim MS, Mehbob, mengaku ada tekanan seperti itu pada kliennya. Mehbob mengatakan, pertemuan berlangsung tanpa kehadiran kuasa hukum Satupos MS dengan lima tersangka pelaku yang sama-sama pegawai KPI Pusat.

Menurut kronologis versi Mehbob, Rabu (8/9), MS diminta datang ke kantor KPI Pusat setelah ada telepon dari salah satu komisioner. MS menuruti dan mampir tanpa didampingi pengacara. Sesampainya di kantor, MS ternyata tidak menemukan komisaris yang menelepon, melainkan bertemu dengan lima tersangka pelaku bersama perwakilan tim penyidik ​​internal KPI yang sudah menyiapkan surat damai.

Mehbob menduga ini semua adalah skenario untuk menjebak kliennya dalam situasi putus asa. “Panggilan dari komisaris ditunggu di KPI. Tanpa komisaris di sana, mungkin itu skenario mereka, tiba-tiba ada surat damai. Dia diminta untuk menandatangani,” kata Mehbob saat dikonfirmasi Kompas.

Mehbob menceritakan bahwa meskipun psikis MS sangat lelah karena intimidasi terus-menerus dalam proses kasus, ia berhasil menolak permintaan perdamaian. “Dia [MS] menolak karena mereka telah menerima instruksi dari kami. Dari [tim pengacara] Saya tetap menyarankan agar proses hukum tetap berjalan,” kata Mehbob.

Rony Hutahaean, anggota tim hukum MS, mengatakan kepada awak media bahwa isi surat perdamaian tidak berpihak pada korban. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, [syarat damai] yang pertama klien diminta mencabut laporan polisi yang ada di polres [Jakarta] Tengah. Kedua, merehabilitasi nama baik kelima tersangka pelaku. Kami tidak bisa mentolerir ini karena telah memutarbalikkan fakta. Klien kami sebelumnya menyatakan bahwa tidak akan pernah ada perdamaian dan tidak akan pernah takut bahkan diancam untuk dilaporkan kembali,” mengatakan Rony untuk Anda media.

BACA JUGA :  Ancaman ISIS Muncul, Warga Afghanistan Diminta Hindari Bandara Kabul
Loading...

Pernyataan penolakan perdamaian ini mengakhiri kebingungan. Sepanjang Kamis (9/9), banyak beredar spekulasi di media sosial bahwa MS akan mencabut laporan dari kepolisian, Komnas HAM, dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Sumber anonim yang mengaku sebagai teman dekat MS menyatakan bahwa MS ditekan untuk mengatakan bahwa pelecehan seksual dan bullying tidak pernah terjadi untuk memulihkan nama tersangka pelaku. Jika menolak, MS diancam akan dilaporkan kembali melalui UU ITE.

Menanggapi tudingan Mehbob, kuasa hukum tersangka pelaku, Tegar Putuhena, membantah pihaknya memaksakan opsi damai. Tegar membenarkan adanya pertemuan Satupos MS dengan kliennya di kantor KPI pada Rabu pekan ini. Namun, dia mengaku pertemuan tersebut diprakarsai oleh MS untuk membahas opsi perdamaian.

“Klien kami kemarin diundang ke KPI, bukan atas inisiatif klien kami. Yang mengundang itu dengan informasi ini ada permintaan perdamaian dari Saudara MS,” kata Tegar saat dihubungi SatuPos.

“Jadi, pertemuan diawali dengan permintaan MS yang didampingi ibunya untuk datang ke KPI pada hari Selasa.” [7/9] kemarin untuk meminta mediasi. Dalam pertemuan itu, masing-masing pihak datang tanpa didampingi kuasa hukumnya dan juga mengajukan syarat-syarat.”

Tegar mengatakan MS mengajukan syarat damai, yakni para tersangka pelaku diminta mencabut surat kuasa dari tim kuasa hukum yang mendampingi masing-masing.





Terimakasih sudah membaca artikel Pengacara Korban Bullying KPI Akui Ada Desakan Tarik Laporan, Tegaskan Tak Mau Berdamai

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *