Menyoroti fenomena pembicaraan bank digital

by -0 views
20210830 172916 - SatuPos.com



20210830 172916 - SatuPos.com

..tren bank digital ini ke depan akan menjadi semacam euforia bahwa semua orang ingin menjadi bank digital,

Jakarta (Satupos) – Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah satu definisi latah adalah meniru sikap, tindakan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Latah tidak salah dan boleh saja asal tidak merugikan siapapun. Apalagi dalam bisnis, banyak bicara adalah hal biasa karena Anda tidak ingin ketinggalan menggarap ceruk pasar yang berpotensi mendatangkan uang.

Indonesia yang saat ini berpenduduk 272 juta jiwa dan 64 persen di antaranya adalah pengguna internet, menunjukkan potensi digitalisasi yang sangat besar. Jumlah ini diyakini akan terus meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi.

Sebagai lembaga berbasis kepercayaan, bank juga mulai mengalihkan layanannya dari kantor cabang ke layanan digital. Bank tentu tidak ingin kehilangan nasabah karena terlambat berinovasi. Pandemi COVID-19 membuktikan hal itu.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana menilai pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir 1,5 tahun di Tanah Air mendorong upaya transformasi digital di sektor perbankan menjadi sebuah keniscayaan.

“Kondisi pandemi mengharuskan kita untuk menempatkan transformasi digital menjadi prioritas jika tidak ingin ditinggalkan oleh pelanggan kita,” kata Heru.

Di masa pandemi, tuntutan akselerasi digital semakin meningkat, didorong oleh perubahan ekspektasi masyarakat terhadap layanan keuangan yang lebih cepat dan efisien. Bank dituntut untuk melayani nasabah dengan gesit agar dapat bertahan dan bersaing.

Menyikapi hal tersebut, otoritas juga mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) No.12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum guna memberikan landasan bagi perbankan untuk mengakselerasi perbankan digital. Regulasi yang sudah lama ditunggu-tunggu juga patut diapresiasi.

Dalam peraturan ini, OJK memperkuat regulasi kelembagaan mulai dari persyaratan pendirian bank baru, aspek operasional, hingga penghentian usaha, termasuk penyederhanaan dan percepatan perizinan pendirian bank dan jaringan kantor, penambahan modal untuk pendirian bank baru, dan mengatur proses bisnis termasuk layanan digital atau pendirian bank. digital.

OJK juga menegaskan kembali definisi bank digital sebagai Bank Badan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan melaksanakan kegiatan usaha terutama melalui jalur elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat atau dapat menggunakan kantor fisik terbatas.
Baca juga: BI Dorong Keuangan Digital Jadi Pilar Transformasi Ekonomi

Digitalisasi layanan

BACA JUGA :  Harga minyak turun, setelah pasokan minyak AS kembali ke pasar

Bank yang sedang melakukan digitalisasi produk dan layanan (petahana) atau melalui pendirian bank baru dengan status langsung perbankan digital penuh, dapat disebut sebagai bank digital. Regulator tidak mendikotomikan atau memisahkan Satupos bank yang sudah memiliki layanan digital, bank digital hasil transformasi dari bank petahana, atau bank digital yang dibentuk melalui pendirian bank baru (bank digital penuh).

Senior banker Jahja Setiaatmadja mengatakan, bank konvensional memang melayani semua nasabah dari berbagai segmen dan usia, namun bank digital dibutuhkan karena ada target pasar tertentu atau biasa disebut dengan bank digital. pasar terbatas yaitu generasi milenial dan generasi Z yang lebih melek dan terbiasa dengan dunia digital. Generasi ini membutuhkan layanan khusus yang dapat disediakan oleh bank digital.

Loading...

“Di bank konvensional ada nasabah yang berusia 18-20 tahun hingga 90 tahun, dan tidak semuanya” cerdas digital. Tentunya kami akan terus melayani mereka dengan produk yang sudah mereka miliki nyaman“Namun bagi generasi muda tentunya kita harus siap menyediakan digital sebagai alat yang memudahkan mereka dalam bertransaksi,” ujar Jahja.

BCA saat ini melayani hingga 40 juta transaksi per hari dimana 86,3 persen dilakukan di luar cabang, 13 persen dilakukan di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang didominasi oleh setoran dan tarik tunai, dan hanya 0,7 persen nasabah yang datang ke kantor. cabang.

Digitalisasi jelas mengurangi aktivitas nasabah di kantor cabang, meski tidak bisa menggantikan keberadaan kantor cabang itu sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri masih ada nasabah yang belum siap menerima digitalisasi dan masih nyaman dengan layanan direct banking, serta transaksi bernilai besar yang masih harus dilakukan secara fisik. Bank digital juga hadir dan akan lebih fokus melayani transaksi individu dan retail.
Baca juga: Sistem pembayaran digital jadi mesin utama digitalisasi UMKM

Semakin kencang

Ke depan, persaingan di pasar perbankan digital diprediksi akan semakin ketat dengan banyaknya pemain baru. Berdasarkan data OJK, total ada 14 bank, baik yang sedang dalam proses go digital maupun yang sudah mengaku sebagai bank digital, Satupos lain Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda Internasional Tbk. , PT Bank QNB Indonesia Tbk, PT KEB HanaBank, Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW Bank UOB, Jago dari Bank Jago, MotionBanking dari MNC Bank, dan Bank Aladin.

BACA JUGA :  Saham Prancis ditutup naik, Indeks CAC40 naik 0,20 persen

Meski begitu, Jahja memperkirakan dalam satu dekade ke depan, hanya tiga bank digital yang akan bertahan dan memimpin pasar perbankan digital.

Ekonom senior Institute for Development of Economics Anda Finance (Indef) Aviliani juga sependapat dengan Jahja. Tren perkembangan bank digital memang luar biasa, meski tren di Indonesia bank digital masih berkonsep hybrid alias masih berkantor cabang, bukan menjadi neobank yang sama sekali tanpa kantor cabang. Hal ini dikarenakan perusahaan atau korporasi yang menyimpan dananya di bank masih didominasi oleh orang-orang yang berusia di atas 50 tahun baby boomer cenderung dilayani.

Dengan digitalisasi, ke depan akan lebih banyak transaksi dari pelanggan ritel. Inilah yang ramai digarap oleh bank digital, meski nantinya akan banyak faktor yang menentukan sejauh mana bank digital akan terus eksis.

“Kami melihat tren bank digital ini ke depan akan ada semacam euforia yang semua orang ingin menjadi bank digital, namun pada saat itu juga akan terjadi seleksi alam karena bank digital tentu membicarakannya. skala ekonomi atau skala ekonomi. Jadi kalau skala ekonominya tidak besar, otomatis tidak bisa,” kata Aviliani.

Penilaian tersebut mencerminkan fenomena di industri perdagangan elektronik yang dulunya tumbuh tapi kemudian sebagian besar pelaku megap-megap atau bahkan jatuh karena tidak mencapai skala ekonomi atau hanya hidup untuk operasi.

Baca juga: Pengamat mengatakan BI membutuhkan kerangka hukum untuk mata uang digital

Oleh Citro Atmoko
Editor: M Razi Rahman
HAK CIPTA © Satupos 2021



Terimakasih sudah membaca artikel Menyoroti fenomena pembicaraan bank digital

dari SatuPos.com

0 Reviews

Write a Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *