Musisi mengatakan tarif royalti musik di Indonesia sangat rendah

by -0 views
photo 5131264 1920 - SatuPos.com



photo 5131264 1920 - SatuPos.com

Jakarta (Satupos) – Musisi dan Ketua Umum Lembaga Manajemen Kolektif Perlindungan Hak Penyanyi dan Musisi Rekaman Indonesia (LMK PAPPRI) Dwiki Dharmawan mengatakan tarif royalti musik di Indonesia relatif rendah.

“Selama ini tarif royalti sudah dibayarkan oleh pengguna, meski banyak yang belum memenuhi kewajiban pembayarannya. Indonesia masuk dalam kategori royalti yang membayar rendah, masih di bawah Singapura dan Malaysia,” kata Dwiki kepada Satupos, Kamis.

Ia mengatakan, sebenarnya royalti musik diatur secara jelas dalam peraturan dan konvensi internasional. Dengan kata lain, pembayaran royalti tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Hal senada juga diungkapkan musisi Badai eks Kerispatih. Dari sisi musisi, kata dia, tarif royalti musik yang telah ditetapkan sudah cukup murah.

“Misalnya per kursi per tahun Rp 60.000, misalkan di kafe ada 30 kursi, artinya Rp 60.000 dikalikan 30 kursi, dan itu hanya dibayar per tahun,” kata pria bernama lengkap Doadibadai Hollo ini. .

Baca juga: Aturan Pengelolaan Hadiah Royalti untuk Industri Musik

Hurricane menekankan bahwa sebuah karya kreatif juga harus dilihat dan ditinjau dari segi esensinya, seperti tingkat legenda, sumber inspirasi, pengaruhnya terhadap masyarakat, dan sebagainya.

“Masalah royalti ini sudah ada sejak lama, UU Hak Cipta 2014 sudah mengatur tentang hak ekonomi pelaku. Menurut saya, ini seharusnya sudah dipahami sejak lama,” katanya.

Sementara itu, Dwiki menyebut PP No 56 Tahun 2021 tentang kewajiban membayar royalti bukanlah hal baru. Tanpa PP, kata dia, semua sudah diatur dalam UU Hak Cipta no. 28 tahun 2014.

“Yang baru dalam PP itu hanya tentang adanya Sistem Informasi Lagu dan Musik (SILM) yang dikelola pihak ketiga dengan dipotong 20 persen royalti untuk operasional LMKN dan biaya investasi,” katanya.

BACA JUGA :  Bersaing dengan Najwa Shihab di ITA 2021, Ruben Onsu Bangga

Dwiki mengatakan nantinya hak royalti akan diberikan kepada pencipta lagu, penyanyi, musisi dan produser rekaman. Penerima hak ini memberi kuasa kepada Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Sedangkan royalti akan dikelola oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan LMK berdasarkan surat kuasa.

“Tarif royalti ditentukan melalui kesepakatan dengan asosiasi pengusaha pengguna. Tarif royalti hotel dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). tarif royalti siaran dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI). Tarif royalti karaoke dengan Asosiasi Pengusaha Rumah Nyanyian Keluarga Indonesia (APERKI),” ujarnya.

Loading...

“Itu hanya menjadi perhatian kami saat itu mall dan lain-lain, disepakati melalui pertemuan berulang dengan asosiasi sehingga disepakati tarif royalti yang kemudian ditetapkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia,” lanjutnya.

Sebelumnya pada Rabu (8/9), Ketua Aprindo Rou Nicholas Mandey bersama sejumlah asosiasi bisnis lainnya bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto untuk membahas sejumlah permasalahan yang dialami pengusaha di tengah pandemi COVID-19, salah satunya terkait royalti. bermain musik di supermarket.

Roy mempertanyakan mekanisme penghitungan royalti musik dan berharap untuk reset. Roy menilai, jika dihitung berdasarkan luas gerai, nilainya akan signifikan. Selain itu, pendengar musik hanya pelanggan yang berjalan di gerai ritel, tidak termasuk produk yang dipajang.

“Lembaga Manajemen Kolektif Perlindungan Hak Penyanyi dan Musisi Rekaman Indonesia (LMK PAPPRI) menilai apa yang disampaikan pengusaha kepada Presiden tentu merupakan tinjauan terkait dampak pandemi. Dan itu tentu saja bisa. dibahas bersama dengan LMK dan LMKN,” kata Dwiki.

Sementara itu, Badai meyakini saat ini semua bisnis sedang mengalami penurunan, bahkan rebah di tengah pandemi. Namun, jika menyangkut hak cipta atau penghargaan dalam karya berhak cipta, masalah royalti harus dilihat dari dua sisi karena semuanya akan membentuk suatu ekosistem.

BACA JUGA :  Persiapan panjang Kim Seon-ho untuk drama "Hometown Cha-Cha-Cha"

“Saya rasa sudah saatnya kita semua bekerja sama. Jadi, musisi punya karya yang bisa dibawakan, mereka juga bisa mengapresiasi karya tersebut,” pungkas Badai.

Baca juga: Pengusaha berharap mekanisme penghitungan royalti musik ditinjau kembali

Baca juga: Anang Hermansyah Desak Pemerintah Terapkan Aturan Royalti

Baca juga: Kemenkumham Akan Buat Data Center Lagu dan Musik Untuk Transparansi

Reporter: Rizka Khaerunnisa
Editor: Maria Rosario Dwi Putri
HAK CIPTA © Satupos 2021



Terimakasih sudah membaca artikel Musisi mengatakan tarif royalti musik di Indonesia sangat rendah

dari SatuPos.com

0 Reviews

Write a Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *