Pentingnya memahami hak kekayaan intelektual bagi pembuat film

by -0 views
IMG 20210916 - SatuPos.com



IMG 20210916 - SatuPos.com

Jakarta (Satupos) – Direktur Pengembangan Kekayaan Intelektual Industri Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Republik Indonesia, Robinson Hasoloan Sinaga mengatakan sangat penting bagi pelaku industri film untuk memahami kekayaan intelektual. hak (HAKI) dalam karyanya.

Robinson mengatakan secara umum film dan konten berhubungan dengan hak cipta dan merek. Kedua hal ini harus dipahami dengan baik agar di kemudian hari tidak terkait dengan masalah hukum.

“Yang paling penting dan sederhana itu dua di antaranya, Hak Cipta dan Merek. Ketika sebuah film bekerja setidaknya kita perlu melindunginya dengan tiga sistem hak kekayaan intelektual, yaitu Hak Cipta, Merek Dagang dan Paten,” kata Robinson dalam seminar “Kekayaan Intelektual dalam Industri Konten di Indonesia”, Kamis.

“Yang dilindungi hak cipta itu semua script atau apapun, termasuk karakter. Kalau itu terkait nama, rasa atau apapun itu terkait brand. Itu saja. Kalau saya mau nama Robinson jadi milik saya, berarti saya harus punya. sistem merek untuk melindunginya,” lanjutnya.

Robinson menjelaskan bahwa pada umumnya konten film memerlukan hak cipta. Hak cipta sendiri merupakan perlindungan hukum yang melindungi seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.

Dengan film di bawah payung hak cipta, karya tersebut akan memiliki kepastian hukum.

“Kalau saya tidak punya HKI maka saya tidak akan dilindungi, kalau saya punya HKI maka saya mendapat kepastian hukum. Hak Cipta itu eksklusif, maka itu objek ilmu, maka tidak melindungi ide. Jadi kalau saya punya ide di kepala saya untuk membuat film, tidak akan dilindungi oleh hak cipta,” kata Robinson.

Untuk membuat sebuah ide menjadi hak cipta, perlu dituangkan ke dalam sebuah film sehingga karya tersebut akan dilindungi secara hukum.

BACA JUGA :  Wregas Bhanuteja: Api perfilman Indonesia tidak boleh padam

Oleh karena itu, sebuah ide cerita tidak akan melanggar hak cipta jika diterjemahkan ke dalam beberapa film.

“Jadi kalau di Amerika ada film ‘Shark’, tolong buat ide filmnya, asal tidak dicopy, dicopy dengan film baru kita, itu pelanggaran,” kata Robinson.

Lebih lanjut Robinson menjelaskan bahwa dalam hak cipta juga terdapat dua hak lain yang harus diketahui oleh pembuat film, yaitu hak moral dan hak ekonomi.

Hak moral ini merupakan hak setiap orang yang terlibat dalam pembuatan film. Semua orang yang terlibat dalam produksi film harus disebutkan namanya, termasuk pengemudi dan staf kebersihan.

Loading...

“Kalau tidak disebutkan, teman-teman berpotensi melanggar hak moral orang-orang yang terlibat dalam film itu. Apa sanksinya? pidana dan perdata. Itu yang sering kita lupakan,” kata Robinson.

“Jadi tulis saja. Kalau lupa, mungkin dalam 2-3 tahun ke depan akan tersandung masalah hukum karena kalau dia bisa membuktikan dia terlibat di sana, kamu akan kena masalah,” tambahnya.

Selain itu, ada juga yang disebut hak ekonomi. Ini berkaitan dengan masalah ekonomi atau pembagian royalti. Pembagian royalti, keuntungan dan lain-lain, harus dituangkan secara jelas dalam suatu surat atau kontrak.

Robinson juga menjelaskan tentang merek tersebut. Sebuah merek dapat berupa nama, gambar, logo, kata, huruf, angka, susunan warna dan sebagainya.

Dalam sistem merek terdapat klasifikasi yang terdiri dari 45 kelas dan ini berlaku di seluruh dunia. Sifat kepemilikan merek juga tergantung pada orang yang mendaftarkannya terlebih dahulu.

“Hak cipta itu ada saat pertama kali terbit, kalau mereknya tidak, prinsipnya kita harus daftar, kalau mau jadi milik saya harus didaftarkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, membayar Rp 1,8 juta. . Siapa pendaftar pertama, dia punya hak, merek dagang Itu perlindungan 10 tahun,” jelas Robinson.

BACA JUGA :  Evan Sanders Beri Motivasi Cinta, Komentar Amanda Manopo Tuai Kontroversi

“Misalnya saya tidak ingin orang lain menjadikan Filosofi Kopi sebagai brand produk, maka saya harus mendaftar di 45 aplikasi,” tambahnya.

Baca juga: UI Sampaikan Tata Cara Pendaftaran Kekayaan Intelektual

Baca juga: Aturan Royalti untuk Melindungi Musisi

Baca juga: Pelanggaran HKI menghambat perkembangan teknologi

Reporter: Maria Cicilia
Redaktur: Alviansyah Pasaribu
HAK CIPTA © Satupos 2021



Terimakasih sudah membaca artikel Pentingnya memahami hak kekayaan intelektual bagi pembuat film

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *