Psikolog mengungkapkan mengapa pasangan memilih untuk pergi “bebas anak”

by -1 views
son 1910304 1280 - SatuPos.com



son 1910304 1280 - SatuPos.com

Jakarta (Satupos) – Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., Psi mengatakan ada beberapa faktor yang membuat pasangan suami istri memilih untuk tidak memiliki anak.tanpa anak / tanpa anak sukarela).

“Banyak faktor (dari pasangan) jadi putuskan bebas anakDiantaranya adalah keuangan yang dianggap tidak mencukupi untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, ada penyakit bawaan atau kronis, kesiapan menjadi orang tua, informasi atau wawasan tentang pernikahan dan membentuk keluarga yang membingungkan, trauma masa kecil, dan lain-lain,” kata Samanta. Satupos, Senin.

Baca juga: Psikolog: Ayah dan Ibu Sama Perannya dalam Mendidik Anak

Lebih lanjut, tidak hanya faktor kesiapan materi, Samanta mengatakan bahwa faktor kesiapan mental juga dapat mempengaruhi keputusan untuk bebas anak, apalagi di masa pandemi yang penuh dengan ketidakpastian.

“Jika keputusan untuk bebas panas karena ada faktor kesehatan mental, perlu dipahami bahwa penyembuhan mungkin, agar jika di kemudian hari setelah proses penyembuhan selesai ingin punya anak ini mungkin,” kata Samanta.

“Demikian pula jika karena faktor finansial, menunda memiliki anak hingga merasa mampu secara finansial juga bisa dilakukan dengan bijak,” imbuhnya.

Ketika sampai pada dampak pilihan bebas anak, seperti mempengaruhi alasan pasangan bercerai, Samanta mengatakan sampai saat ini alasan perceraian belum ada data yang menyebutkan alasannya. bebas anak di Indonesia.

“Walaupun tidak menutup kemungkinan kedepannya hal ini bisa menjadi pemicu keretakan hubungan pernikahan karena adanya perubahan keinginan, misalnya setelah 10 tahun menikah yang sudah disepakati di awal. bebas anak Tapi lama kelamaan salah satu pasangan ingin punya anak,” jelasnya.

Loading...

Namun yang terpenting, menurut Samanta, keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak merupakan hal yang harus dipertimbangkan dengan matang oleh kedua belah pihak.

BACA JUGA :  Airlangga menegaskan komitmennya untuk transformasi menuju ekonomi sirkular

“Tidak memiliki anak merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan matang-matang dan disepakati bersama agar tidak ada pihak yang dipaksakan, dalam hal ini suami istri,” kata Samanta.

“Padahal dalam menjalani sebuah pernikahan, segala sesuatunya perlu direncanakan dengan matang demi visi dan misi menjalin hubungan pernikahan dan membentuk keluarga yang harmonis dan sejahtera,” imbuhnya.

Baca juga: BKKBN: Pencapaian pelayanan posyandu rendah di masa pandemi COVID-19

Baca juga: PJJ Bikin Stres? Kenali karakter anak agar belajar lancar

Baca juga: Orang Tua Bisa Ajari Anak Keberagaman Melalui Perayaan HUT RI di Rumah

Wartawan: Arnidhya Nur Zhafira
Redaktur: Ida Nurcahyani
HAK CIPTA © Satupos 2021



Terimakasih sudah membaca artikel Psikolog mengungkapkan mengapa pasangan memilih untuk pergi “bebas anak”

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *