Waspada kanker tulang pada anak, lutut bengkak dan nyeri jangan dipijat

by -1 views
pexels tatiana syrikova 3975600 - SatuPos.com



pexels tatiana syrikova 3975600 - SatuPos.com

Jakarta (Satupos) – Orang tua kerap memilih pengobatan alternatif terkait masalah persendian dan tulang. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak mereka jika mereka diduga mengalami keseleo, urat bahkan patah tulang.

Padahal kondisi ini tidak selalu benar, karena ada kemungkinan persendian dan tulang yang nyeri dan bengkak sebenarnya bisa disebabkan oleh kanker tulang osteosarcoma, yang justru akan semakin parah saat dipijat.

Nyeri dan bengkak, terutama di sekitar lutut, merupakan tanda awal kanker tulang osteosarcoma yang harus segera diobati. Ahli Bedah Onkologi Prof. Dr. dr. Achmad Fauzi Kamal SpOT (K), mengatakan kondisi anak bisa semakin parah jika bagian yang bengkak dan nyeri itu dipijat.

Dalam webinar Yayasan Onkologi Anak Indonesia, Sabtu, Fauzi menjelaskan jika bagian yang bengkak dipijat atau dipijat akan merangsang sel kanker tumbuh lebih cepat dan tumor cepat menyebar.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, osteosarcoma merupakan kanker tulang primer yang banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja. Osteosarcoma paling sering ditemukan di tulang sekitar lutut, baik di ujung tulang paha atau di dasar tulang kering.

Pembengkakan dan nyeri merupakan gejala awal yang harus diwaspadai, terutama jika nyeri semakin parah meski sudah diobati dengan pereda nyeri biasa.

“Cirinya nyeri progresif, setelah minum obat akan mereda, lalu nyerinya bertambah parah, kemudian nyerinya tidak berespon dengan obat pereda nyeri biasa,” jelas Fauzi.

Pembengkakan yang dialami bervariasi, bisa sangat besar hingga kulit menipis. Gejala lainnya adalah penurunan berat badan yang drastis dan penderita tidak dapat berjalan. Kadang juga disertai patah tulang. Rasa sakitnya juga bisa sangat mengganggu di malam hari sehingga anak Anda sulit tidur.

Baca juga: Kanker payudara masih menjadi masalah besar di negara berkembang

Baca juga: Apakah deteksi kanker di laboratorium harus dilakukan secara mandiri?

“Jika anak mengalami gejala ini pada usia 10-20 tahun, orang tua harus curiga dan membawanya ke dokter karena hampir dipastikan itu adalah keganasan tulang. Mengapa hampir pasti? Karena tumor jinak biasanya tidak sakit,” katanya.

Dibandingkan dengan jenis kanker lain pada anak, kejadian osteosarkoma relatif rendah. Namun, kanker ini sangat progresif dan angka kematiannya cukup tinggi.

Menurut WHO, prevalensinya sekitar 4-5 orang per 1 juta penduduk. Puncak kejadian osteosarkoma adalah pada usia 10-20 tahun yang mencapai 70 persen. Di RSUP Dr Ciptomangunkusumo terdapat 219 kasus osteosarkoma berdasarkan data tahun 1995-2007. Ada sekitar 16 kasus per tahun dan sejak tahun 2014 hingga saat ini telah ditemukan 19 kasus per tahun.

BACA JUGA :  KLHK meresmikan fasilitas "rumah kaca" pertama di sekolah dasar

Mengenali gejalanya secara dini dan cepat membawa anak ke dokter akan menentukan hasil akhir perjalanan penyakit kanker osteosarcoma, karena kanker ini bisa bertambah parah dalam hitungan minggu hingga bulan. Osteosarkoma dapat menyebar ke paru-paru, tulang lain dan sumsum tulang.

“Jangan tunda-tunda. Kanker ini tumbuh sangat cepat, jadi orang tua harus segera membawa mereka ke dokter segera setelah gejala awal muncul. Akan lebih baik jika mereka segera dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap yang bisa mengobati kanker tulang. “

Secara umum, dokter dapat menyimpulkan diagnosis osteosracoma dari penampilan fisik pasien. Namun diagnosisnya masih harus dipastikan dengan pemeriksaan X-ray, dan bila perlu CT Scan dan biopsi. Terkadang, dari hasil CT scan, sekitar 45 persen osteosarkoma ditemukan di tulang lain.

Pengobatan osteosarcoma: kemoterapi, operasi atau amputasi

Pengobatan utama untuk osteosarcoma adalah kemoterapi dan pembedahan, yaitu pengangkatan tumor atau amputasi. Menurut Prof Fauzi, osteosarcoma merupakan jenis kanker yang resisten terhadap kemoterapi dan radiologi, sehingga dosis kemoterapi umumnya lebih tinggi.

Ia mengajak para orang tua untuk optimis dan berbesar hati jika anaknya harus menjalani kemoterapi, karena hampir semua pasien bisa melalui proses tersebut.

“Dukungan orang tua penting saat anak menjalani kemoterapi,” kata Fauzi.

Dokter spesialis anak konsultan hematologi anak dr. Bambang Sudarmanto, SpA(K) dari RSUP dr. Kariadi Semarang mengatakan kemoterapi merupakan terapi wajib untuk pengobatan osteosarcoma.

Loading...

Kemoterapi bisa dilakukan sebelum operasi, atau operasi sebelum kemoterapi. Tapi keduanya harus dilakukan,” jelas Bambang.

Dijelaskannya manfaat kemoterapi bagi pasien yaitu osteosarcoma memiliki respon yang baik terhadap kemoterapi, ada harapan tumor akan mengecil sehingga pembedahan lebih mudah, juga efektif membunuh sel kanker yang mungkin menyebar ke tempat lain.

Baca juga: Anjurkan pasien kanker untuk melakukan vaksinasi COVID-19

Efek samping yang dapat dirasakan oleh pasien anak adalah mual dan muntah, kemudian nafsu makan menurun yang otomatis membuat tumbuh kembang terganggu karena anak enggan makan. Efek samping lainnya adalah diare, sembelit, rambut rontok dan mucositis.

Ia mengungkapkan, efek samping kemoterapi pada anak cenderung lebih ringan dibandingkan pasien dewasa, sehingga orang tua tidak perlu terlalu khawatir. Seringkali anak pulih lebih cepat dari efek samping, sehingga dokter mungkin memberikan dosis kemoterapi yang lebih tinggi untuk mencoba membunuh tumor.

Namun, ada juga salah satu efek kemoterapi yang harus diwaspadai, yakni depresi pada sumsum tulang yang membuat anak rentan terkena infeksi akibat berkurangnya sel darah putih, dan mudah berdarah karena berkurangnya trombosit. Anak juga mudah merasa lelah karena berkurangnya sel darah merah.

BACA JUGA :  Pantai Carita, Banyak Ragam Wisata Seru dan Seru

Ia menjelaskan tahapan pengobatan kemoterapi pada osteosarcoma. Yang pertama adalah kemoterapi neoadjuvant, yang diberikan 10 minggu sebelum operasi. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor. Selanjutnya adalah operasi atau amputasi. Setelah operasi, pasien menerima kemoterapi ajuvan.

Kemoterapi diberikan dalam siklus. Setiap masa pengobatan diikuti dengan masa istirahat agar tubuh memiliki waktu untuk pulih. Setiap siklus biasanya berlangsung selama beberapa minggu.

Orang tua penderita osteosarkoma disarankan untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat tentang obat yang diberikan kepada anaknya, termasuk efek sampingnya.

Meski jarang, ada obat kemo yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas. Gejalanya meliputi sesak napas, nyeri dada, gatal-gatal, wajah memerah, panas, hipotensi, dan gangguan kesadaran.

Jadi, orang tua perlu mendiskusikan bagaimana mencegah dan mengatasi jika terjadi efek samping. Jangan lupa untuk melakukan pemantauan atau pemeriksaan laboratorium sesuai waktu yang ditentukan untuk mengetahui efek samping kemoterapi.

Prof Fauzi menambahkan, tidak semua pasien osteosarcoma akan diamputasi. Amputasi dilakukan jika sel kanker telah melibatkan pembuluh darah besar, terdapat patah tulang, dan infeksi (luka lebar).

Jika amputasi dapat dihindari, prosedur pembedahan dilakukan dengan mengangkat atau memotong tulang yang terkena tumor. Tulang ini kemudian “dirawat” secara khusus dan dibersihkan dari sel kanker. Biasanya dengan radiasi.

“Sambil menunggu tulang sembuh, pasien diberikan prostesis tulang sampai tulang asli dinyatakan bersih dan bisa dipasang kembali. Sayangnya harga prostesis ini cukup mahal dan saat ini ketersediaannya tidak banyak,” jelas Prof Fauzi.

Pasien yang sudah sembuh dari kanker ini harus tetap melakukan pemeriksaan rutin sesuai anjuran, karena masih ada potensi kekambuhan dan penyebaran sel kanker.

Tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah osteosarcoma, meskipun faktor-faktor tertentu seperti terapi radiasi masa lalu atau kondisi genetik dapat meningkatkan risiko. Namun, memiliki faktor risiko tidak selalu berarti Anda akan terkena osteosarkoma. Oleh karena itu, setiap tanda atau gejala harus diperiksa sesegera mungkin.
Baca juga: Rekomendasi Menurunkan Angka Kematian Akibat Kanker Payudara

Baca juga: Pencipta “Sudoku” Meninggal Karena Kanker Saluran Empedu

Baca juga: Bergizi, suplemen poliherbal efektif dalam mengobati kanker kolorektal

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosario Dwi Putri
HAK CIPTA © Satupos 2021



Terimakasih sudah membaca artikel Waspada kanker tulang pada anak, lutut bengkak dan nyeri jangan dipijat

dari SatuPos.com

Nilai Kualitas Konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *